Kepada Bapak (I-V)


Kepada Bapak 

(bag. V)

gerimis masih merintik
pada ukiran nama di pusara-mu
genangi pelupuk mata kami
    kami, yang kau jenguk lewat mimpi
    lalu terbangun pada sembab pagi
    "pada setengah-terlelap tadi..
    -aku ingin berbincang, bertanya-"
    cahya pagi membuyarkan     

rintik belum jua pergi
ia sesekali menghampiri
genangi pelupuk-pelupuk;
    wajah-wajah yang terhutang budi
    terkenang pada sosokmu penuh jasa
    dalam benak mereka;
    "-kepada siapa lagi akan...-"
    angin pun membisukan

bagiku;
gerimis pagi 10 November nanti
layaklah kami menyambangi,
membasuh ukiran nama
taburi air bunga jalan doa 
engkau adalah satu diantara mereka
yang tertuju pada alun hening cipta

dalam perjalanan waktu
bagiku..
rintik belum reda

(03 Maret 2021)




Kepada Bapak  I


pagi lalu masih tampak,
tatap teduhmu menembus lensa persegi, 
memandangiku
tapi padamu aku buta
kini pagi seperti pagi lalu, 
takkan lagi ada

sore kemarin masih samar
tutur-lembut-wibawamu menegurku,
tapi dihadapmu aku tuli
kutahu sore seperti sore kemarin, 
tak kan lagi tiba

malam ini kau tlah tiada
baru aku henyak
merunut setiap kata dan jejak
tafsirkan semua tauladanmu
kutahu, 
malam ini kelam

dan bila esok tiba pun
kami merindumu



Kepada Bapak  II


Bapak,
kemarin saat nafasmu hadir
aku bergeming

kemarin kala ruhmu terjaga
aku alpa menyapa, 
enggan bercengkrama, 
tak turut berbagi peluk 

kini kau pergi
tanpa melambai tangan
tinggal lah kami termangu bisu
ini  rasa kehilangan yang pantas 
menimpaku,
yang lalai menjagamu

Bapak,
adakah kau rela atas kami
yang tlah tancapkan beribu luka
menebar duri di jalan-jalan yang kau buka
kini entah 
bagaimana,
padamu kami mengemis maaf 

jejak yang kau tinggalkan,
kan kami taburi bunga
yang belum sempat tersemaikan sore lalu
tegalan yang kau limpahkan,
kan kami bangun karya dan kerja
yang tiada sempat teramalkan pagi kemarin

Bapak, 
istirahatlah
tidurmu,
kami temani dengan doa




Kepada Bapak III


senyum yang tulus,
iringi langkamu yang lurus
budi fikir yang jernih,
pandu gerakmu yang tak pamrih
itu yang kudengar
tentangmu,
dari dongeng ilalang pada bebatu 

engkau hidup mengabdi langit
lalu pulang dijemput langit
itu yang kutangkap,
tentangmu,
dari pikuk bangau pada lembayung sore

aku slalu  senang mendengar
dan tak henti kagum 
akan riwayatmu
semerbak harum


Kepada Bapak IV


waktu yang bercerita
seakan memberi tau
betapa engkau menyayangi kami
seperti gerimis pada sungai;
membuatnya tetap mengalir

waktu yang bercerita
kini buat mengerti
betapa engkau peduli pada kami
seperti angin pada putik;
membuatnya berbunga

kehilanganmu,
kami bagai titik hujan
    terhempas dari mendung
    dan mendung pergi
    selepas lukis warna pelangi

kami hanya ulat
menghabiskan daunnmu 
bersayap,
lalu terbang lalu

waktu yang bercerita
menyadarkan,
bahwa semua yang kautinggal
segala yang kau pilih
adalah terbaik dari yang terindah

bapak, 
padamu
kami tak pernah kecewa


(mengenang wafat Ayahanda, 9 Januari 2021)