Di Laut Ini Masih Kunanti
sampai laut pasang kali ini pun,
aku masih bertanya
inikah rasa?
kita berkirim pesan, berjawab telepon
tak terbilang sudah kata "selamat malam"
angin hanya mengusik tiang-tiang kaku
lautmu tampak dangkal tuk merapat
sedangkan lautku makin dalam saja
kini embun belum sirna di pelupuk
belum waktunya bermalam di dermaga kan?
lekaslah jadi dara
kan kuperbaiki layar koyak-ku
di laut ini masih kunanti
(Februari 2013)
ini kali ketiga
saat tak ada jawaban di telepon
lelaki muda itu hanya menggigit bibir
baginya malam turun lebih awal
lampu jalan mulai riang
gelap hinggapi sudut-sudut kota
diantara rintik yang mulai turun,
pemuda itu masih termangu
bus yang kunanti tlah datang
pandangku menembus embun di kaca,
kini kulihat riangnya
getar dering ponsel,
(Februari 2013)
Nada Sambung di Halte
ini kali ketiga
saat tak ada jawaban di telepon
lelaki muda itu hanya menggigit bibir
baginya malam turun lebih awal
lampu jalan mulai riang
gelap hinggapi sudut-sudut kota
diantara rintik yang mulai turun,
pemuda itu masih termangu
bus yang kunanti tlah datang
pandangku menembus embun di kaca,
kini kulihat riangnya
getar dering ponsel,
itukah?
(Februari 2013)
(Februari 2013)
Sepenggal Kisah Sebelum Dermaga
kau masih juga diam
kupikir...
ini hanya sepenggal episode waktu
ada saatnya,
kupikir...
ini hanya sepenggal episode waktu
ada saatnya,
perahu kita mesti saling berjauhan
sebelum sampai pelabuhan
meski kadang laut tak ramah,
dan haluanku tak tentu arah
namun kita hanya perlu saling memandang
tanda-tanda di layar yang kita bentang
sebelum sampai pelabuhan
meski kadang laut tak ramah,
dan haluanku tak tentu arah
namun kita hanya perlu saling memandang
tanda-tanda di layar yang kita bentang
kala malam mulai kikis,
tunjuklah satu bintang pemandu
di langit kasih yang kita lukis
tunjuklah satu bintang pemandu
di langit kasih yang kita lukis
agar kunikmati lagi candu di wajahmu
(Februari 2014)
ah, putri...
mungkin sebaiknya kau tak bertemu aku
ini bukan musim hujan yang baik,
tuk menyemai cinta
pergilah putri,
temui pangeranmu,
bukan aku sang katak
berapa kalipun kau cium,
aku kan sama saja
taman tampak sunyi siang tadi
angin tak mengusik kuntum melati
ia hanya menyapa tengah malam
saat bunga lelap di terang bulan
adapun taman cinta kita...
aku hanya mampu mengusik
lewat pesan sajak tengah malam nanti
agar buatmu tersenyum di pagi
| image source : eonline.com |
Putri Sandal Beling
ah, putri...
mungkin sebaiknya kau tak bertemu aku
ini bukan musim hujan yang baik,
tuk menyemai cinta
pergilah putri,
temui pangeranmu,
bukan aku sang katak
berapa kalipun kau cium,
aku kan sama saja
Pesan Singkat Tengah Malam
taman tampak sunyi siang tadi
angin tak mengusik kuntum melati
ia hanya menyapa tengah malam
saat bunga lelap di terang bulan
adapun taman cinta kita...
aku hanya mampu mengusik
lewat pesan sajak tengah malam nanti
agar buatmu tersenyum di pagi
(Februari 2013)