Sabtu, 31 Desember 2016

Catatan Akhir Tahun

gambar: picstate.wordpress.com


Ditemani Gerimis

ingin kutulis lagi tentang laut
tentang rintik yang hujani geladak
derainya iramakan rindu menyayat

pandangku ke samudera terhalang,
    oleh leleh air di kaca jendela
dalam dingin udara, butir butir itu setia menemani
ah, mengapa bukan kau saja  

(26-Desember-2016) 






gambar : Wasant Tonkun

Terserah Waktu Saja


aku ingin berhenti bicara hati
sejak malam-malam tak lagi terisi

aku hendak berhenti bicara puisi
karna cakap kita tiada kenal janji

aku berhenti mimpikan bulan merah muda 
aku tersesat,  kita sekarat
dan kita..., 
terserah waktu saja

(30-Desember-2016)


ilustrasi : Pinterest

Jati


kau bilang aku seperti pohon jati
tega ranggaskan pucuk-pucuk harap
tiada teduhimu kala kemarau

kau kata aku umpama jati
gugurkan janji demi janji
bahkan sebelum datang rayu angin

saranku;
    pergilah!, bersandarlah pada beringin
    ia kan naungimu sepanjang tahun
    sepanjang hidup

(25-Januari-2017)



Selat Sunda


diatas ferry dekat dermaga,
selembar kantong plastik menjerit;
"jangan hempas aku hai manusia! di bawah sana...
    tumpukan kami kan ganggu ikan dan terumbu!".
angin yang coba mengusik pun pasrah 
    saksikan ia jatuh ke laut,
terombang-ambing gelombang yang murka
tragedi itu 
berulang setiap waktu.

bertahun sudah laut tak biru lagi, 
ikan-udang ingin bunuh diri. 
ratap mereka ; "kami makan serpihan tiap hari"
sedang camar kurus yang dulu riang kini murung bisu.
berkata nelayan  tua pada anaknya ;
 "kasihan burung2, sampah bikin mereka susah cari ikan"

Sore ini,  di atas ferry dekat dermaga,
kulepaskan pandang pada luasnya biru
"selat sunda.. apa kau sedang bersedih..?"

(Juli 2015)